Sesuai Prediksi Peneliti, Harga Sawit Anjlok Hingga Tiga Ribu Rupiah Per Kilogram
--
Sesuai Prediksi Peneliti
Sebelumnya, peneliti ISEAS Yosuf-Ishak Institut, Made Supriatma, telah memprediksi hal tersebut. Dia menyampaikan, skema satu pintu ini merupakan bentuk konsentrasi kekuasaan yang sulit dikontrol juga rawan merusak pasar.
“Apa yang dilakukan Prabowo sangat mirip dengan yang dilakukan pemerintahan Soeharto. Ketika harga cengkeh naik turun, pemerintah mendirikan BPPC. Idenya mirip Bulog di bidang beras,” jelas Made Supriatma melalui keterangan tertulis di media sosialnya.
Made Supriatma menilai solusi satu pintu ini bermasalah. Menurutnya, monopoli ekspor hanya lazim di negara dengan komoditas strategis seperti minyak Saudi Aramco atau rare earth China. Sementara negara seperti Norwegia, Australia, dan AS hanya meregulasi ekspor tanpa menciptakan monopoli BUMN.
Ia khawatir skema ini akan menekan harga beli produsen, menurunkan insentif investasi, kemudian membuat pembeli mencari substitusi.
“Sama seperti petani cengkeh dan jeruk dulu, mereka membabati tanaman mereka. Pembeli bisa menimbun saat harga tinggi dan melepas cadangan di waktu tepat,” jelas pria asal Bali tersebut.
Adapun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, mengklaim pembentukan badan khusus ekspor, PT Danantara Sumber Daya Indonesia, menjadi solusi kunci sebagai upaya menutup celah praktik under invoicing maupun pelaporan nilai ekspor yang lebih rendah dari nilai sebenarnya.