Perusahaan Induk Meta AI Rumahkan Lebih dari 8.000 Karyawan, Imbas dari Efisiensi dan Optimalitas AI Muse Spark
--
Dampak Penggunaan Otomatisasi Terhadap Budaya Kerja
Kebijakan restrukturisasi berbasis teknologi ini menuai kritik dari kalangan akademisi karena dianggap dapat memengaruhi daya tarik perusahaan di mata pencari kerja. Penggunaan otomatisasi yang masif menimbulkan kekhawatiran terkait masa depan tenaga kerja manusia di dalam ekosistem Meta.
"Perusahaan yang sangat mengandalkan otomatisasi seperti Meta berisiko kehilangan daya tariknya sebagai tempat kerja idaman, karena mulai terlihat jelas bahwa mereka akan menyingkirkan tenaga kerja manusia saat ada kesempatan," ungkap Jan-Emmanuel De Neve, profesor ekonomi di Universitas Oxford, kepada Bloomberg.
Langkah korporasi ini dinilai memiliki implikasi ganda bagi kelangsungan bisnis. Efisiensi biaya yang didapatkan dari pengurangan staf berisiko memicu masalah baru terkait loyalitas dan produktivitas karyawan dalam jangka panjang.
"Langkah tersebut memang dapat menghasilkan penghematan biaya jangka pendek, tetapi berisiko mengancam potensi pertumbuhan jangka panjang dengan mengorbankan kesejahteraan dan rasa keterikatan karyawan," pungkasnya.
Salah satu tujuannya yakni sebagai upaya mengejar ketertinggalan dari para pesaing seperti Google serta OpenAI ketika membangun model AI mutakhir. Model AI terbaru dari Meta, Muse Spark, yang dirilis bulan lalu dianggap lebih menjanjikan namun masih tertinggal dari para pesaingnya.
Dalam paparan laporan keuangannya pada bulan Januari lalu, eksekutif Meta mengungkapkan bahwa belanja modal perusahaan bisa hampir berlipat ganda hingga USD 135 miliar tahun ini, serta belum jelas berapa ukuran perusahaan yang optimal di masa depan.